Mahasiswa Tolak Keputusan Mahkamah Konstitusi.

lawanhl.jpg

SOLO-Puluhan mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Selasa(4/3) menuntut pemerintah agar lebih serius menangani pendidikan di tanah air. Mereka melakukan unjuk rasa dengan membawa sejumlah poster di bundaran Gladag, Jl. Slamet Riyadi Solo mulai pukul 13.30 WIB.

seksi-dokumentasi-hl.jpgAksi mahasiswa ini adalah respon terhadap keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menyatakan bahwa anggaran pendidikan yang besarnya 20 persen dari total APBN, sudah mencakup keperluan pembayaran gaji guru. Keputusan ini menurut para mahasiswa menandakan ketidakseriusan pemerintah terhadap terpuruknya dunia pendidikan Indonesia. Pembayaran gaji guru seharusnya diambilkan dari pos anggaran lain sehingga anggaran pendidikan bisa dimaksimalkan untuk pembangunan infrastruktur dan pemerataan pendidikan guna meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Minimnya anggaran pendidikan menurut para pengunjuk rasa ini juga akan memicu mahalnya biaya sekolah akibat komersialisasi dan kapitalisasi.

Baca juga artikel terkait di sini dan di sini.

Menularkan Mimpi Dynand Fariz di Solo

dsc_3590psd.jpg

SOLO-Membangkitkan semangat, menyulut motivasi dan menggugah percaya diri. Itulah yang dirasakan para peserta workshop begitu mendengar langsung penjelasan Dynand Fariz . Pria berperawakan kecil itu telah memberi contoh kongkrit bahwa sebuah perubahan besar tidak selalu harus dilakukan oleh orang-orang yang “besar” dalam materi, kedudukan maupun pendidikan. Meski workshop sehari “Kreatif dan Berani dengan Batik”di Pendhapi Gedhe Balaikota Solo, Sabtu(1/3) ini hanya didatangi sekitar 50 orang, semuanya cukup antuasias. Dimulai sejak pukul 14.00, mayoritas yang datang adalah anak-anak muda, sebagian bahkan masih mengenakan seragam sekolah.

Dynand Fariz menjadi ternama sejak berhasil membuat Kota Jember, Jawa Timur menjadi kota fashion dengan kelas internasional. Jerih payahnya membuahkan Jember Fashion Carnaval (JFC) yang rutin digelar setahun sekali sejak 2002. Jika anda belum pernah menonton JFC, bayangkanlah kemeriahan Festival Rio de Janeiro atau Venesia.

“Di Festival Rio de Janeiro, anda dapat melihat ratusan orang berkostum menarik dan sama. Tapi di JFC anda akan melihat ratusan orang tapi tidak satupun yang berkostum sama,” kata Fariz.

Apa yang dikatakan Fariz tidak berlebihan. Melalui JFC, Fariz membuat semua orang menjadi desainer, perias kecantikan sekaligus model. JFC menghancurkan semua stigma yang mengharuskan seorang perancang mode harus lulusan sekolah desain, seorang model harus bertubuh sempurna dan seorang perias model harus lulusan sekolah kecantikan.

Keberhasilan JFC membuat dunia menoleh ke Jember nampaknya ingin diadopsi oleh kota Solo. Kedatangan Fariz sendiri adalah undangan dari salah satu event organizer yang mengklaim focus pada kegiatan seni budaya di Solo. Fariz diminta menularkan ilmu dan semangatnya agar perhelatan Solo Batik Carnaval pada 13 April mendatang bisa segemilang JFC. Yang lebih penting tentunya mampu membangun mimpi untuk kemajuan Solo.

Seperti pesan Fariz dalam sebuah wawancara di Harian Sinar Harapan,

“Tidak ada mimpi yang tak bisa jadi kenyataan. Jangan takut bermimpi besar dan tularkan mimpi itu untuk kebaikan bersama.”

 dsc_3565psd.jpgdsc_3641psd.jpgdsc_3640psd.jpgdsc_3639psd.jpg

Kostum yang dipamerkan saat workshop membuat semua peserta sangat antusias karena banyak dibuat dari barang bekas