Asyiknya Pawai HUT Solo ke-265-III

Senangnya bisa blogging lagi…
Perayaan HUT Solo ke-265, 17 Pebruari 2010 benar-benar dirayakan oleh seluruh masyarakat. Dalam satu pertunjukan andalan Solo yakni karnaval, semua warga Solo tumpah ruah memenuhi jalan Slamet Riyadi. Rute yang diambil pun sudah langganan yakni dari lapangan Kotabarat sampai halaman Balaikota di jalan Sudirman.

Tak hanya warga, jurnalis, penjual makanan dan jajanan, hansip, tukang foto amatir sampai para pehobi fotografi, semuanya berbaur dalam kerumunan kegembiraan dan kemeriahan pawai budaya. Para copet mungkin juga nggak mau ketinggalan tentunya.

Tak terhitung berapa kali Solo menggelar karnaval. Setiap momen special memang biasanya selalu ditandai dengan karnaval atau kirab. Dari waktu ke waktu sempat ada beberapa perubahan dalam pelaksanaannya. Yang paling kelihatan adalah pemangkasan display yakni kesempatan untuk memperagakan tarian atau koreografi apapun selama peserta berpawai. Boleh tapi sambil tetap berjalan. Cara ini cukup ampuh untuk memperlancar pawai dan mempersingkat waktu tempuh. Namun jelas mengurangi poin entertainment. Mirip-mirip fashion show dimana peraga hanya melintas di depan penonton.

Pada karnaval kali ini, panitia agaknya mulai membuka komunikasi dengan para jurnalis foto dan TV. Satu panggung kecil di tempatkan di perempatan Gendengan tepat di belokan lintasan pawai. Tempat ini sangat membantu para fotografer dan kameramen untuk mendapatkan gambar bagus. Panggung-panggung kecil seperti ini sebaiknya dibuat beberapa di sepanjang lintasan kirab. Karena lintasan sepanjang Kotabarat-Balaikota sangat panjang. Selain untuk para jurnalis juga untuk menampung para pehobi fotografi. Karena, para pehobi fotografi yang baru atau yang sedang “lucu-lucunya memegang kamera” biasanya belum mengerti etika hunting foto dalam sebuah event. Selain menjengkelkan panitia, juga agak mengganggu penonton maupun para jurnalis peliput. Lha wong berseliweran dalam barisan peserta pawai seenaknya tanpa sadar kalau aksinya menganggu fotografer atau kameramen yang lain. Tapi it’s oke, karena itu adalah sebuah proses. Alangkah baiknya jika sebelum hari pelaksanaan, panitia membuka ruang untuk mempertemukan perwakilan peserta, jurnalis, komunitas fotografi, maupun pasukan pengawal karnaval. Gunanya untuk menyamakan persepsi agar semua bisa menjalankan tugas dan pekerjaannya tanpa saling terganggu. Sebab bagaimanapun, para fotografer maupun kameramen (baik jurnalis atau bukan) pasti punya andil berupa penyebarluasan informasi dan publikasi buat acara yang digelar panitia. Bravo Solo…

Asyiknya Pawai HUT SOlo ke-265-II

Peserta yang ceria dan sadar kamera.

Motret apa nyari sinyal, bapak?

Sik..sik..sik..tulung dicekelke sik...

Motretnya udah belum, pegel nih?

Aku onlen..onleen, onlen..onleen

Wah, ketemon rek..hehehe


Lanjutan dari foto-foto pawai yang nggak serius…semoga berkenan..

Asyiknya Pawai HUT Solo ke-265

Eh, enek apane kik?

Beberapa potong momen ini terekam saat Karnaval HUT Solo ke-265 pada 17 Februari 2010. Momen seperti ini biasanya tidak akan muncul di media massa karena keterbatasan space yang mereka miliki. Jadi untuk anda yang ingin menyaksikan unpublished moment dalam pawai kemarin silakan nikmati foto-foto dalam blog ini. Tak ada foto serius atau hardnews dari event kemarin karena itu bisa dengan mudah anda temukan dalam media massa konvensional. Selamat menikmati…

Kostum yang memeras keringat. Seorang peserta mengelap wajahnya saat menunggu pemberangkatan pawai di lapangan Kotabarat.

Ketoke tulisane mau enek sing kliru....

Mahasiswa Tolak Keputusan Mahkamah Konstitusi.

lawanhl.jpg

SOLO-Puluhan mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Selasa(4/3) menuntut pemerintah agar lebih serius menangani pendidikan di tanah air. Mereka melakukan unjuk rasa dengan membawa sejumlah poster di bundaran Gladag, Jl. Slamet Riyadi Solo mulai pukul 13.30 WIB.

seksi-dokumentasi-hl.jpgAksi mahasiswa ini adalah respon terhadap keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menyatakan bahwa anggaran pendidikan yang besarnya 20 persen dari total APBN, sudah mencakup keperluan pembayaran gaji guru. Keputusan ini menurut para mahasiswa menandakan ketidakseriusan pemerintah terhadap terpuruknya dunia pendidikan Indonesia. Pembayaran gaji guru seharusnya diambilkan dari pos anggaran lain sehingga anggaran pendidikan bisa dimaksimalkan untuk pembangunan infrastruktur dan pemerataan pendidikan guna meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Minimnya anggaran pendidikan menurut para pengunjuk rasa ini juga akan memicu mahalnya biaya sekolah akibat komersialisasi dan kapitalisasi.

Baca juga artikel terkait di sini dan di sini.

Menularkan Mimpi Dynand Fariz di Solo

dsc_3590psd.jpg

SOLO-Membangkitkan semangat, menyulut motivasi dan menggugah percaya diri. Itulah yang dirasakan para peserta workshop begitu mendengar langsung penjelasan Dynand Fariz . Pria berperawakan kecil itu telah memberi contoh kongkrit bahwa sebuah perubahan besar tidak selalu harus dilakukan oleh orang-orang yang “besar” dalam materi, kedudukan maupun pendidikan. Meski workshop sehari “Kreatif dan Berani dengan Batik”di Pendhapi Gedhe Balaikota Solo, Sabtu(1/3) ini hanya didatangi sekitar 50 orang, semuanya cukup antuasias. Dimulai sejak pukul 14.00, mayoritas yang datang adalah anak-anak muda, sebagian bahkan masih mengenakan seragam sekolah.

Dynand Fariz menjadi ternama sejak berhasil membuat Kota Jember, Jawa Timur menjadi kota fashion dengan kelas internasional. Jerih payahnya membuahkan Jember Fashion Carnaval (JFC) yang rutin digelar setahun sekali sejak 2002. Jika anda belum pernah menonton JFC, bayangkanlah kemeriahan Festival Rio de Janeiro atau Venesia.

“Di Festival Rio de Janeiro, anda dapat melihat ratusan orang berkostum menarik dan sama. Tapi di JFC anda akan melihat ratusan orang tapi tidak satupun yang berkostum sama,” kata Fariz.

Apa yang dikatakan Fariz tidak berlebihan. Melalui JFC, Fariz membuat semua orang menjadi desainer, perias kecantikan sekaligus model. JFC menghancurkan semua stigma yang mengharuskan seorang perancang mode harus lulusan sekolah desain, seorang model harus bertubuh sempurna dan seorang perias model harus lulusan sekolah kecantikan.

Keberhasilan JFC membuat dunia menoleh ke Jember nampaknya ingin diadopsi oleh kota Solo. Kedatangan Fariz sendiri adalah undangan dari salah satu event organizer yang mengklaim focus pada kegiatan seni budaya di Solo. Fariz diminta menularkan ilmu dan semangatnya agar perhelatan Solo Batik Carnaval pada 13 April mendatang bisa segemilang JFC. Yang lebih penting tentunya mampu membangun mimpi untuk kemajuan Solo.

Seperti pesan Fariz dalam sebuah wawancara di Harian Sinar Harapan,

“Tidak ada mimpi yang tak bisa jadi kenyataan. Jangan takut bermimpi besar dan tularkan mimpi itu untuk kebaikan bersama.”

 dsc_3565psd.jpgdsc_3641psd.jpgdsc_3640psd.jpgdsc_3639psd.jpg

Kostum yang dipamerkan saat workshop membuat semua peserta sangat antusias karena banyak dibuat dari barang bekas

Wajah Segar Menyapa Indonesia

dsc_3475.jpgdsc_3474.jpgdsc_3497.jpgdsc_3498.jpgdsc_3503.jpgdsc_3499.jpgdsc_3504.jpgdsc_3507.jpg

SOLO-Bagi pemerhati perkembangan berita di tanah air tentu tidak asing lagi dengan wajah Tina Talisa. Beberapa minggu terakhir senyum segarnya menghiasi layar kaca kita di saluran TVone setiap pagi. Mulai jam 06.30 hingga 08.00, Putri Indonesia Jawa Barat 2003 ini dan rekannya, Iwan Sudirwan membawakan berita-berita terhangat di Indonesia dalam Apa Kabar Indonesia.

Tina Talisa adalah bagian dari metamorfosa Lativi menjadi TVOne pada 14 Februari 2008. Dalam format barunya, Lativi nampak jelas merevolusi tayangan beritanya menjadi lebih menarik, interaktif dan cenderung informal. Kesan yang didapat pemirsa adalah sebuah tayangan yang informatif namun tidak cepat membuat kening berkerut.

Kerasnya kehidupan dan berbagai peristiwa yang tersaji dalam tayangan berita setiap hari, tentu membuat masyarakat makin lama jenuh. Setiap hari, menu kerusuhan, tawuran, bencana alam, penggusuran dan kejahatan kelas berat selalu hadir di rumah. Media TV-pun justru berlomba-lomba menayangkan karena peristiwa seperti itulah yang layak dijadikan berita utama. Semakin rusuh dan mengerikan semakin kuat nilai headline-nya.

Kesadaran akan hal ini mungkin menjadi pertimbangan utama perubahan format-format berita di TVone dan juga sebagian besar TV lain. Dalam waktu yang hampir bersamaan, semuanya berlomba mengemas tayangan berita menjadi lebih segar dan santai.

Semoga aroma kesegaran ini juga mampu mengubah wajah murung Indonesia dan menerbitkan harapan baru bagi kita, rakyatnya.

  

Pameran Foto Journalist in Frame : Jeruk Makan Jeruk !

dsc_3445.jpg 

SOLO- Jeruk makan jeruk. Mungkin itulah ungkapan yang paling tepat saat teman-teman wartawan menyaksikan pameran foto di lantai II Solo Grand Mall, Jl. Slamet Riyadi Solo pada tanggal 24 Februari – 4 Maret 2008. Mengapa? Karena 150 foto karya fotografer Jawa Pos Radar Solo, Anwar Mustafa ini mengabadikan “kelakuan” para wartawan selama melakukan peliputan.

 Terlepas dari istilah tersebut, pameran bertajuk Journalist in Frame ini mungkin baru pertama kali ada di Indonesia. Karena biasanya, para wartawanlah yang mengabadikan momen-momen penting bukan menjadi obyek seperti dalam pameran ini. Dengan bidikan yang jeli, Anwar mampu merekam para jurnalis dalam angle yang unik dan menyentuh.  

Selain digelar sebagai ajang silaturahmi antar insan pers dalam rangka Hari Pers Nasional (9 Februari), pameran ini memperlihatkan kepada masyarakat, apa yang harus dilakukan jurnalis  untuk menjadi “mata” serta “telinga” rakyat yang tajam dan peka.

Beberapa foto dalam Journalist in Frame juga merupakan hasil jepretan jurnalis lain, perusahaan, instansi atau perorangan yang kebetulan sempat mengabadikan peliputan tanpa diketahui para wartawan.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.