Lomba Melukis Aksara Jawa : Sebuah Usaha Pengenalan Tradisi Lokal

hlpelindung-panas.jpg

SOLO- Ratusan anak usia TK dan SD se Surakarta, Minggu(24/2) pagi rela berpanas-panas di Taman Hiburan Rakyat Sriwedari, Jl. Slamet Riyadi Solo, demi mengikuti Lomba Mewarnai dan Menggambar Kaligrafi Aksara Jawa. Lomba ini adalah salah satu dari rangkaian acara Peringatan Hari Ulang Tahun Kota Solo yang ke-263 pada 17 Februari 2008..

Layaknya anak-anak di belahan dunia manapun, mereka sangat antusias dengan aksi coret moret di kertas ini. Mereka berekspresi dengan menggunakan warna-warna yang cerah dan kontras satu sama lain. Oleh panitia lomba, para peserta memang dibebaskan menggambar dan mewarna dengan syarat lukisan harus mencantumkan aksara Jawa (hana caraka data sawala pada jayanya maga bathanga). Meski pesertanya adalah anak-anak, beberapa orang tua juga ikut asyik membantu dengan memegangi kertas, menyuapi makanan, memayungi bahkan ada juga yang ikut mewarna lukisan.

Selain lomba melukis aksara Jawa, Dinas Pendidikan dan Olahraga Solo sebagai penyelenggara juga mengadakan lomba tari Jawa dan lomba geguritan atau deklamasi dengan bahasa Jawa. Ketiga acara ini digelar bersamaan di Sriwedari.

Advertisements

Menu Sehat Warung Nasi Bakar 2 : Nikmat dan murah

dsc_3309psd.jpg 

SOLO-Kami memesan nasi bakar lalap teri, nasi bakar lalap belut, tempe penyet dilengkapi es lemon tea dan es campur. Yang dinamakan nasi bakar adalah satu porsi nasi yang dibungkus dengan daun pisang kemudian dibakar di atas arang. Di dalam bungkusan nasi ini sudah dilengkapi dengan sambal dan lalapan daun pepaya yang diletakkan di pinggir-pinggirnya.. Sejumput teri goreng ditanam dalam nasi untuk menambah cita rasa gurih. Bayangkan betapa nikmat aroma nasi, sambal, daun papaya dan teri goreng yang dibakar jadi satu dalam bungkusan daun pisang. Sambal teri maupun lalapan belut yang kami minta disajikan terpisah dengan nasi. Semuanya dilengkapi dengan sambal dan lalapan

Kuatir tak dapat menahan air liur lebih lama lagi, kami segera menyantap hidangan. Tentunya dengan tangan atau  pulukan  kata orang Jawa. Supaya lebih afdol.

Hmmmm…..nyam nyam nyammmm….

Nasinya pulen dan aromanya itu lho..luar biasa. Setelah kami ‘jajah’ satu persatu, ternyata sambal yang ada di dalam bungkusan nasi punya cita rasa yang berbeda dengan sambal lalap maupun sambal tempe penyet. Masing-masing ada ciri khasnya. Pedas sih, tapi cocok dengan cuaca sore itu yang mulai hujan. Sambal teri dan belut gorengnya cukup nikmat. Terinya tidak hanya digoreng namun dibumbu manis pedas kemudian dicampur kacang goreng. Sedangkan belutnya cukup digoreng garing.

dsc_3304psd.jpg

Rasa minuman yang disajikan tidak ada yang sangat istimewa, standarnya sama dengan warung atau rumah makan yang lain. Namun penyajiannya cukup baik. Lemon tea  dihidangkan dalam gelas tinggi dengan irisan jeruk nipis di bibir gelas sementara es campurnya disajikan dalam mangkuk.

Nasi bakar 3 porsi, lalapan teri, lalapan belut, tempe penyet, 2 gelas es lemon tea dan semangkuk es campur, semuanya Rp 18.000. Oiya, tambah satu buah kerupuk. Wow ! Perut kenyang, kantung aman.

Patut untuk jadi referensi bukan? Kunjungi saja Pondok Jowi,  Jl Kasuari II no.1 Manahan, Solo. Kalau tersesat telpon saja nomornya, (0271)718513.

    

Menu Sehat Warung Nasi Bakar 1 : Tenang dan tersembunyi

dsc_3297psd.jpg

SOLO- Ketika istri saya menceritakan tentang warung yang menjual nasi bakar, spontan selera makan saya tergugah. Kemecer kalau orang jawa bilang. Apalagi saat bercerita, istri saya membumbuinya dengan embel-embel pedas, enak dan murah.

Tak sabar menunggu hari Minggu, Jumat sore saya dan istri saya mencari keberadaan warung itu. Letaknya cukup tersembunyi. Dari Jl Dr Soepomo Manahan, tepatnya di sebelah barat kolam renang Tirtomoyo, ada sebuah gang kecil ke selatan. Kami menyusuri gang itu sampai habis kemudian belok ke kanan (timur). Warung ini hanya berjarak 20 meteran dari belokan tersebut.

Begitu memasuki pintu warung, suasana alami sudah menyapa kami. Meja dan kursi makan terbuat dari kayu yang tak dicat. Ukurannya pun relative kecil-kecil, menyesuaikan dengan tempatnya yang memang tidak terlalu luas. Lebarnya sekitar 3 meter namun memanjang kurang lebih 10 meter. Seluruh interior terbuat dari bamboo. Bahkan kerangka atapnya juga tersusun dari bamboo yang menjepit terpal tebal berwarna hijau daun. Pagar dari tanaman perdu dan lantai yang hanya diplester semen menambah kesan sejuk dan asri. Apalagi suasana di sekitar warung itu cukup tenang karena tidak berhadapan dengan rumah atau jalur masuk bangunan lain.

Bukan hanya suasana warung yang membuat nyaman, menu makanan dan minumannya pun membuat saya semakin nyaman. Bayangkan, semua harganya rata-rata dari 2500 hingga 7500 rupiah saja. Semuanya menunya selalu dilengkapi lalapan dan tidak menyediakan daging sapi atau masakan bersantan. Jadi jangan kuatir bagi yang punya masalah dengan kolesterol.

Sempat saya berpikir, harga segini jangan-jangan rasanya tidak karuan. Tapi pikiran itu langsung saya usir jauh-jauh begitu makanan yang kami pesan mendarat di meja… (berlanjut ke menu sehat warung nasi bakar 2)

Perayaan Imlek 2008 : Puncak Pengakuan Eksistensi Warga Keturunan Tionghoa

headline.jpg

SOLO- Di tahun Tikus Api 2008 ini,warga Solo keturunan Tionghoa patut berbesar hati. Kiprah mereka di berbagai bidang semakin diakui seiring meningkatnya dinamika kota Solo.

Dalam Peringatan Tahun Baru Imlek 2008 di Pendapi Gedhe Balaikota Solo, Jumat(22/2), lima warga Solo keturunan Tionghoa mendapat penghargaan di bidangnya masing-masing. Mereka adalah ;

  • Handojo Tjandrakusuma atau Tjan Thiam Bo(dewan Pembina Yayasan Pendidikan Warga Surakarta),
  • Halim Sugiarto atau Liem Hong Mei (pendiri klub basket Bhinneka Solo),
  • Heru Subianto atau Soei Tie Bian (pengembang wushu, seni liong dan barongsai),
  • Nora Kustantina Dewi atau Koo Giok Lan (seniman, peneliti dan penulis kesenian tari jawa dan pewayangan),
  • Rosita Lannywati atau Sie Kiem Lan (pendidik di Yayasan Pendidikan Warga Surakarta).

Acara peringatan Tahun Baru Imlek sendiri berlangsung meriah. Bangunan Pendhapi Gedhe yang arsitekturnya berciri Jawa Tengah dengan atap joglo, empat saka guru serta ukiran jawa ini sesaat bagai tenggelam dalam nuansa oriental. Cerah dan serba merah. Seluruh dekorasi sampai para panitia dan pengisi acara semuanya bergaya Tionghoa.

Perayaan Imlek yang sengaja dilakukan pada hari Cap Go Meh ini baru pertama kali digelar di Balaikota. Acara diawali dengan doa bersama yang dipimpin oleh perwakilan pemuka agama Buddha, Hindu, Islam, Katolik, Kristen, Konghucu dan Aliran Kepercayaan. Usai acara seremonial pendapi Gedhe, Walikota melepas kirab Barongsai di halaman Balaikota. Para seniman barongsai tersebut berkeliling di jalan-jalan raya dan menyebar di tiga titik utama yakni Jebres, Nusukan dan Pasarkliwon.

Puncak perayaan Imlek ditandai dengan pengabadian nama Yap Tjan Bing(anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) menjadi nama jalan menggantikan jalan Abartoir di kawasan Jagalan Kecamatan Jebres, Solo.

Kasus Arca Museum Radya Pustaka mulai Disidangkan

dsc_3073psd.jpg

 SOLO-Sidang kasus pencurian dan pemalsuan arca koleksi Museum Radya Pustaka Solo, hari Selasa(19/2) mulai digelar di Pengadilan Negeri Solo, Jl.Slamet Riyadi. Kepala Museum yang menjadi terdakwa, KRH Darmodipuro atau Mbah Hadi menghadiri sidang dengan pakaian yang biasa dikenakannya di museum yakni setelan safari coklat tua, lengkap dengan peci hitam. 

Di sepanjang persidangan, Mbah Hadi nampak cukup santai. Bahkan, pria tua ini sesekali melempar senyum kepada wartawan yang berlomba-lomba mengambil gambarnya.

Dalam sidang perdana ini, jaksa penuntut umum (JPU) mendakwa Mbah Hadi dan tiga tersangka lainnya bersalah dan merugikan keuangan negara. Mbah Hadi bersama dua karyawan museum yakni Gatot dan Jarwadi serta seorang pedagang barang antik, Heru Suryanto terbukti mencuri dan memalsukan lima buah arca batu museum Radya Pustaka serta menjualnya secara ilegal. Atas perbuatannya Mbah Hadi diancam hukuman maksimal 10 tahun penjara.

Tanggapan Mbah Hadi terhadap dakwaan JPU sempat membuat pengunjung sidang tersenyum-senyum. Menurut Mbah Hadi, museum Radya Pustaka adalah milik keraton Surakarta yang dikelola oleh yayasan. Sehingga ia menolak jika apa yang dilakukannya dikatakan merugikan negara.

“Museum itu milik keraton. Apalagi atas kemurahan Tuhan Yang Maha Kuasa, arca-arca yang hilang itu akhirnya berhasil ditemukan dan bisa dikembalikan ke pangkuan Museum Radya Pustaka, sehingga tidak terjadi kerugian. Jadi tidak benar kalau saya merugikan negara,” ujarnya.

Sidang yang dijaga oleh puluhan polisi ini akan dilanjutkan pekan depan dengan agenda tanggapan JPU terhadap eksepsi penasihat hukum.

Valentine’s Barongsai

dscn5896psd.jpg

SOLO-Entah apa yang menjadi focus dalam perayaan ini, valentine’s day dengan nuansa Imlek atau Imlek yang bernuansa valentine’s day. Namun yang jelas, keduanya mendapat porsi yang sama besar dalam kegiatan di Sekolah Dasar Palm Kids, Jl. KS Tubun, Manahan, Solo, Jumat(15/2).

Dalam event ini siswa-siswa dikenalkan dengan budaya-budaya yang berkaitan dengan peringatan imlek dan Valentine’s Day. Para siswa diajak untuk membungkus cokelat bersama-sama kemudian membuat kartu ucapan untuk teman-temannya. Setelah selesai mereka dikenalkan dengan seni barongsai serta tradisi angpaonya. Berhubung digabungkan dengan perayaan valentine, barongsai yang  ditampilkan pun warnanya agak genit yaitu merah muda.

Mereka Tak Butuh Simbol

dsc_2655psd.jpg

SOLO- Valentine’s day tiba, anak-anak muda di seluruh dunia pun berlomba-lomba merayakannya dengan bunga atau coklat. Tanpa harus meributkan asal-muasalnya, hari Valentine 14 Februari sudah dianggap saat yang paling tepat untuk menunjukkan kasih sayang dalam wujud yang benar-benar kongkrit kepada siapapun yang disayangi.

Tidak semua orang beruntung bisa memperoleh kasih sayang dan perhatian yang layak setiap hari. Sebagian dari anak-anak di kota-kota Indonesia termasuk Solo, hanya mendapatkan debu, bising, asap motor dan terik matahari setiap hari.

 Setangkai bunga tidak akan berarti apapun bagi anak-anak jalanan, karena bukan simbol-simbol yang mereka butuhkan. Namun simbol masih lebih baik daripada berputar-putar meributkan sejarah yang ujung-ujungnya mempertentangkannya dengan agama.